Friday, 17 May 2013

Cara Gampang Cari Uang…. Bersama Ekiosku.com



Memasuki dunia cyber, tak cukup bermodal hobi saja. Berkicau di twitter, up-date status di facebook, curhat diblog, de-el-el butuh biaya yang tak sedikit. Bagi yang senang nongkrong di warnet, butuh duit buat bayar rental. Bagi yang seneng on-line berjam-jam dengan gadget pribadi, butuh pulsa yang harus dibeli dengan duit. Jika berburu hotspot gratis, males karena tak bebas mengakses informasi yang diinginkan saking kurangnya privasi di tempat umum.


Solusi terbaik, tentunya harus menjadi pengguna dunia cyber aktif. Bukan hanya memboroskan uang, tapi menghasilkan uang dari hobi ber-cyber. Memang ada banyak tawaran di dunia cyber untuk menghasilkan uang. Namun ujung-ujungnya harus membeli e-book dulu atau seabreg persyaratan lain yang kebanyakan tak masuk akal. Bahkan tak jarang semua yang ditawarkan berakhir dengan kasus PENIPUAN.
Tapi tak perlu khawatir, ADA CARA GAMPANG CARI UANG. Yakni dengan bergabung menjadi Agen EkiLink. Apa itu EkiLink…?


EkiLink adalah suatu sistem afiliasi promosi produk Ekiosku.com melalui berbagai media online (website/blog/jejaring sosial) milik para Agen EkiLink yang tergabung di dalam jaringan afliasi EkiLink. Dengan tujuan untuk memperluas jangkauan promosi dan meningkatkan penjualan.
Melalui EkiLink, siapapun dapat menjadi Agen sehingga dapat ikut mempromosikan link atas produk produk Ekiosku.com di halaman media onlinenya (website/blog/media sosial).



Setiap Agen EkiLink akan diberikan komisi apabila website/blog/media online-nya berhasil mereferensikan pembeli untuk belanja produk yang dipromosikan sampai transaksi selesai.
Keuntungan menjadi Agen EkiLink  :
1.     Tak perlu keluar modal usaha alias gratis
2.     Mendapatkan penghasilan tambahan (Passive Income) bagi mereka yang aktif di dunia online melalui sistem referral.
3.     Bebas memilih produk mana saja yang ingin diaffiliasikan (direferralkan).

Skema menjadi Agen

Syarat Dan Ketentuan menjadi Agen EkiLink:
1.     Dengan bergabung di jaringan EkiLink, Agen otomatis menyetujui untuk mempromosikan produk Ekiosku.com yang dipilihnya di website/blog/media online milik Agen dan sepenuhnya sadar bahwa tidak semua produk yang dipromosikan terjamin penjualannya.
2.     Besaran komisi yang didapat oleh Agen adalah sesuai yang tertera pada saat memilih produk dan nilai besaran ini tidak mengikat dan dapat berubah sesuai kebijakan pembagian hasil antara manajemen Ekiosku.com dan pemilik produk.
3.     Manajemen berhak sewaktu-waktu menghapus akun Agen apabila dianggap melanggar Syarat & Ketentuan Ekiosku.com dan segala dana komisi Agen akan hangus. Keputusan penutupan akun adalah hak mutlak dari manajemen Ekiosku.com.
4.     Penarikan dana komisi dari EkiLink adalah minimal Rp. 50.000,- dan akan ditransferkan dalam waktu 24 jam hari kerja. Informasi riwayat komisi bisa dilihat di daftar Riwayat Komisi EkiLink di menu Akun dan hanya setelah komisi mencapai Rp. 50.000,- bisa klik Request Penarikan. Jika belum isi data rekening saat bergabung, maka akan disuruh isi informasi rekening terlebih dahulu. Apabila bank diluar BCA, Mandiri, & BNI, maka Agen akan dipotong biaya Rp. 5.000 biaya lintas bank.


Untuk informasi lebih lanjut, langsung klik saja website Ekiosku.com.  
 Jadi, tunggu apalagi.. Ayo bergabung menjadi Agen EkiLink….  
 

Thursday, 16 May 2013

Karena Epson L- Series… Galih Bisa Membaca


Suatu hari saya dikenalkan oleh kakak dengan Bu Dea. Seorang teman kakak saya yang sehari-hari menjadi pedagang di pasar Tanjungsari-Sumedang. Dia mengeluh bahwa anaknya yang sudah kelas dua SD belum bisa membaca dan menulis.

Saya tak habis pikir, apa saja yang dilakukan sang anak dan gurunya selama tiga jam di dalam kelas. Benar-benar tak masuk akal. Saya pun berseloroh pada kakak, bahwa saya bisa membuat anak itu bisa membaca dalam jangka waktu 24 kali pertemuan.
Rupanya candaan saya disampaikan kakak pada Ibu Dea. Dia pun meminta pertanggungjawaban untuk membuktikan kata-kata saya. Tentu saja saya jadi kalang kabut sendiri. Kok candaan, bisa dianggap serius oleh mereka. Karena Bu Dea terus mendesak. Saya pun dengan sedikit terpaksa menyanggupinya. 


Pertemuan pertama dengan anak itu, namanya Galih. Menyisakan beragam tanya didalam benak saya. Apa sebenarnya yang dilakukan seorang guru di dalam kelas setiap hari. Galih memang terkesan nakal, tapi cukup kooperatif jika diminta melakukan sesuatu sesuai kehendak saya. Menurut pemahaman saya, Galih hanya butuh sedikit perhatian saja untuk membuatnya menjadi bersemangat untuk menaklukan dunia ( haha lebay ya..)


Tapi itulah kenyataannya. Selama ini Galih hanya bertemankan seorang pembantu yang sudah sepuh dirumahnya. Bu Dea dan suaminya sibuk menjalankan usaha tokonya di pasar. Pergi gelap, pulang pun gelap. Tujuh hari dalam sepekan. Jadi tak pernah memperhatikan Galih dan adik-adiknya.
Beruntung Galih tidak kelewat nakal seperti yang banyak digambarkan di sinetron-sinetron. Dia hanya ‘sedikit’ nakal. Dan itu menurutku wajar-wajar saja. Galih hanya butuh sebuah sentuhan yang akan mengembalikannya pada jalan yang benar.
Saya membuatkannya beragam kartu hurup dengan gambar-gambar indah yang mencolok. Membuat Galih jadi semangat belajar. Gambar-gambar eye catching itu saya membuatnya dengan printer Epson L- series. Printer multi fungsi yang super hemat.


Singkat kata, dengan metoda kartu huruf yang saya perkenalkan. Dalam waktu 16 kali pertemuan, Galih sudah bisa membaca meski masih patah-patah. Kini dia sudah mulai tertarik untuk membaca setiap tulisan yang ditemukannya dimanapun. Saya senang. Keberhasilan Galih ternyata berawal dari sebuah candaan saya yang konyol.
Saya memenuhi janji pada ibu Dea. Hanya tiga bulan mengajar Galih secara privat. Bu Dea sangat kecewa dengan keputusan saya meninggalkan Galih yang mulai gemar membaca. 


Walau begitu saya yakin, Galih sudah mulai mampu berdiri tegar untuk menaklukan dunia.
Terima kasih Epson….
 

Resolusi cetak 5760×1440 dpi
- OS Compatibility Windows : Windows XP/XP Professional x64 Edition/Vista/7 dan MAC : Mac OS X 10.5.8, 10.6.x, 10.7.x
- Kecepatan cetak 9dpi (teks hitam)
- Printing Method InkJet Max. Media SizesA4 Max. Resolution5760
- Dimension (WHD) 472 x 145 x 300 mm (WxHxD) Weight4.4 kg, Consumables Compatible with :
• Black Ink Cartridge [T6641]
• Cyan Ink Cartridge [T6642]
• Magenta Ink Cartridge [T6643]
• Yellow Ink Cartridge [T6644]
- Compatible Media Sizes A4, A5, A6, B5, 10x15cm (4x6"), 13x18cm (5x7"), 9x13cm (3.5x5"), Letter (8.5x11"), Legal (8.5x14"), 13x20cm (5x8"), 20x25cm (8x10"), 16:9 wide size, 100x148mm, Envelopes: #10 (4.125x9.5"), DL (110x220mm), C6 (114x162mm)
- Koneksi printer : USB 2.0
- Power Consumption :
• Standalone Copying : Approx. 12W
• Standby : Approx. 3.5W
• Sleep : Approx. 1.5W
• Power Off : Approx. 0.3W
- Kecepatan mengcopy dokument 360×360 dpi (5 detik per copy)

Pake OGB…. Siapa Takut….?


http://www.dexa-medica.com/


Menejer tempat saya bekerja sempat heran ketika saya menukarkan beberapa kuitansi pengobatan di kantor. Bukannya apa-apa, selama dua minggu berobat jalan ke dokter suatu klinik. Biaya yang saya keluarkan termasuk “sederhana” untuk ukuran beliau. Dalam benaknya, selama dua minggu pengobatan, saya pasti menghabiskan biaya yang cukup besar. Mengingat penyakit yang saya derita cukup “menyeramkan”.
Itu terjadi berkat resep obat yang diberikan dokter, semuanya Obat Generik. Saat pemeriksaan berlangsung, saya memang cukup cerewet dengan sang dokter. Maklum sang dokter termasuk kenalan saya. Jadi bisa lebih berani untuk tanya ini itu. Dan memohon keringanan dengan meminta resep Obat Generik.
Sebenarnya sudah menjadi hak setiap pasien untuk memilih resep obat yang ditawarkan. Bukan karena kedekatan secara emosional dengan sang dokter. Kewajiban setiap dokter lah untuk menjelaskan setiap obat yang diresepkannya pada setiap pasien. Tanpa memandang latar belakang, kedekatan emosional, suku, ras agama atau apapun. Setiap pasien berhak mendapatkan perlakuan yang sama.


http://www.dexa-medica.com/

Obat Generik atau lebih tenar dengan sebutan Obat Generik Berlogo (OGB) merupakan program Pemerintah Indonesia yang diluncurkan pada tahun 1989. Tujuannya untuk memberikan alternatif obat dengan kualitas terjamin, harga terjangkau, serta ketersediaan obat yang cukup bagi seluruh lapisan masyarakat.

http://www.dexa-medica.com/

Disebut Obat Generik, karena obat berlogo lingkaran hijau bergaris-garis putih dengan tulisan "Generik" di bagian tengah lingkaran ini dikenal sebagai obat yang ramah di kantong (alias murah meriah). Meski begitu, kualitas yang dipunyai obat Generik, sama dengan obat serupa yang dikeluarkan oleh produsen komersil.

http://www.dexa-medica.com/

Obat Generik bisa murah dikarenakan obat yang bersangkutan (produksi awal) telah habis masa patennya (off patent), sehingga dapat diproduksi oleh semua perusahaan farmasi tanpa perlu membayar royalty pada pemilik hak paten awal. Masa paten suatu obat biasanya sekitar dua puluh tahun dikurangi masa uji klinis. Sehingga efektif kehidupan paten suatu obat cenderung antara tujuh sampai dua belas tahun.
Walau hanya meniru komposisi awal obat paten, produsen OGB harus memenuhi standarisasi tertentu. Yakni memiliki sertifikat COA (dokumen otentik yang dikeluarkan oleh pihak berwenang untuk menjamin kemurnian dan kualitas obat), sertifikat CPOB (Cara Pembuatan Obat yang Baik), disahkan BPOM RI (Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia) serta lulus uji bio-availabilitas dan bio-ekivalensi

http://www.dexa-medica.com/

Pengujian bio-availabilitas dilakukan untuk mengetahui seberapa cepat kandungan zat aktif dalam obat tersebut diserap oleh darah menuju sistem peredaran tubuh. Sedangkan uji bio-ekivalensi dilakukan untuk membandingkan profil bioavailabilitas dengan tiap bentuk obat yang tersedia, meliputi tablet, kapsul, sirup, dan sebagainya.
Disamping itu, OGB juga tidak mengeluarkan biaya promosi yang berlebihan seperti obat komersil lain. Sehingga budget promosi bisa dialihkan untuk menekan biaya produksi. Belum lagi produksi obat yang dilakukan secara besar-besaran hingga dapat menekan ongkos produksi.


Sejauh ini, rekomendasi OGB oleh dokter, hanya dilakukan di kota-kota kecil. Ini terbukti dengan perbedaan biaya berobat ke dokter di kota besar dengan di kota kecil. Bila berobat di klinik kota kecil. Dengan biaya relatif terjangkau, seorang pasien sudah mendapatkan pemeriksaan dokter dan sekantung obat. Tak perlu susah-susah menebus obat lagi di apotek. Bila diperhatikan, semua obat yang diberikan dokter, seluruhnya berlogo OGB.
Beda dengan ketika berobat di klinik kota besar atau di rumah sakit yang cukup bagus dan terkenal. Sang dokter hanya memeriksa pasien dan menuliskan resep obat. Selanjutnya sang pasien harus menebus resep di apotek. Biasanya sang pasien merasa “dirampok”. Karena harga tebusan obat yang gila-gilaan. Padahal, tidak semua pasien, mampu menyediakan dana besar untuk menebus resep obat.

http://www.dexa-medica.com/

Sudah seharusnya cara-cara “pembodohan” semacam ini dihentikan. Sosialisasi yang gencar harus dilakukan pemerintah untuk melindungi warga negaranya. Caranya bisa dengan memasang poster atau pamplet yang menarik di setiap klinik, rumah sakit atau balai pengobatan di seluruh Indonesia mengenai sosialisasi Obat Generik Berlogo.
Jangan hanya sosialisai gencar di media televisi, surat kabar atau internet. Biasanya setiap pasien dan keluarganya akan lupa bahwa ada program OGB saat menderita sakit. Mereka hanya panik dan sibuk menahan sakit. Jadi bayangan tentang program OGB hilang dari benak mereka.
Bila poster sosialisasi OGB ditempel di ruang tunggu setiap klinik, rumah sakit dan balai pengobatan lainnya. Minimal setiap pasien atau yang mengantar teringatkan kembali. Jadi bisa lebih kritis saat menghadapi dokter di ruang pemeriksaan. Mereka bisa meminta sang dokter untuk meresepkan OGB untuk penyakit yang dideritanya.

http://www.dexa-medica.com/

Tak usah takut. OGB tak kalah kualitasnya dengan obat paten yang komersil. Bahan baku dan cara pembuatannya sama. Lagi pula, hanya Tuhan yang bisa menyembuhkan sakit. Obat dan semacamnya hanya sebuah media atau jalan untuk menuju kesembuhan.
Benar apa kata Slamet Budiarto, Sekjen (PB IDI) Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia. “Masyarakat seharusnya menggunakan haknya untuk meminta dan mendapatkan resep obat generik dari dokter,”.
Bila seorang pakar sudah mengatakan demikian. Apalagi yang diragukan. 

Generasi OGB

Jadi….Pake OGB… Siapa takut ?   

Wednesday, 8 May 2013

Dear Serena Biskuit…………My Last Witness



Pertama kali mengenal Serena Egg Roll, tahun 1999. Saat bersilaturahmi lebaran ke rumah teman SMA. Saya tak henti menggasak Serena Egg Roll kalengan yang disuguhkan sang empunya rumah. Terkadang saya suka lupa diri saat menemukan makanan baru. Jiwa muda menyebabkan penyakit “Muka Tembok” saya kambuh. Tak henti menyuap batang demi batang. Hingga hampir seperempat kaleng, Serena Egg Roll berpindah tempat ke perut saya.
Dulu, keluarga kami hidup lumayan menyedihkan. Penghasilan keluarga hanya dicukup-cukupin untuk memenuhi kebutuhan primer saja. Yang penting bisa makan sederhana yang sehat. Berpakaian sederhana yang layak. Juga sekolah tetep lancar karena tak pernah nunggak SPP.
Tak ada dana berlebih untuk membeli makanan yang cukup mahal menurut ukuran keluarga kami waktu itu. Seperti halnya Serena Egg Roll. Belum ada kemasan kecilnya masuk ke kampung kami. Serena Egg Roll hanya boleh dibeli per kaleng. Waktu itu kalengnya berbentuk segi empat warna hitam.


Selepas SMA dan mulai bekerja. Saya baru mampu membelikan keluarga, sekaleng Serena Egg Roll saat hari raya lebaran. Semua anggota keluarga begitu menyukainya. Terutama Ibu. Beliau suka sekali tekstur Serena Egg Roll yang lembut dan renyah. Kata Ibu, kue-nya mirip kue semprong. Jajanan masa kecil beliau. Rasanyapun tidak terlalu manis. Jadi pas buat Ibu.
Ibu tak pernah meminta saya untuk membelikan kembali Serena Egg Roll kesukaannya. Beliau tahu, harga kue itu lumayan mahal buat ukuran dia. Meski begitu, saya tahu, beliau suka sekali dengannya. Saya bertekad dalam hati, bila suatu saat punya uang kembali. Ingin membelikannya. Saya ingin membahagiakan Ibu, dan melihat senyumnya yang riang saat memeluk kaleng Serena Egg Roll pemberian saya.
Ibu tak perlu meminta lewat kata-kata. Karena bagi saya, apalah arti sekaleng Serena Egg Roll, dibanding perjuangannya untuk kami. Dengan cinta kasihnya, Perempuan sederhana ini meluahi kami dengan semua kegembiraan. Saya ingin membahagiakan Ibu. Kalau perlu, saya akan berusaha keras agar bisa membelikan Ibu sekaleng Serena Egg Roll setiap hari. Meski Ibu tak pernah memintanya. 


Namun keinginan saya hanya sebatas impian. Tetap saja baru bisa membelikan Ibu sekaleng Serena Egg Roll pada saat Hari Raya Lebaran saja. Yang saya ingat, Mata Ibu selalu berkaca-kaca saat menerima sekaleng Serena Egg Roll itu dari tangan saya.


Sekarang, Ibu sudah menghadap Yang Kuasa. Saya tak mungkin membelikannya lagi sekaleng Serena Egg Roll di hari raya. Meskipun saat ini saya bisa membelikan beliau lebih dari sekaleng. Bahkan setiap hari pun saya mampu membelikannya. Sungguh… saya menyesal karena tak mampu lagi untuk membahagiakannya ?


Bagi kami, Serena Egg Roll adalah My Last Witness. Dia saksi terakhir atas cinta saya pada Ibu.

Tuesday, 7 May 2013

Korek Api Gas Fighter Indonesia : Pemantik Gas Dari Masa Ke Masa



Dunia mengenal pemantik gas (korek api gas) sejak tahun 1816. Diciptakan oleh Johann Wolfgang Dobereiner. Untuk mengenang sang penemu, pemantik gas hasil ciptaannya dinamakan "Lampu Dobereiner's". Alat ciptaan Dobereiner menggunakan butana atau minyak sebagai bahan bakar, memanfaatkan hydrogen dan platinum sebagai katalis (untuk memulai perubahan kimia dari bahan bakar menjadi api).
Pada 1920-an, korek api gas masih menjadi barang mewah. Hingga tahun 1930, seorang pria bernama George G. Blaisdell menciptakan pemantik gas ini, menjadi barang yang bisa diproduksi massal. Diikuti pula oleh para produsen lain. Yang membuat harga korek api gas terjangkau oleh semua kalangan.
Teknologi pemantik gas berkembang cepat setelah Perang Dunia pertama. Hingga teknologi Piezoelektrik diterapkan untuk pemantik gas. Teknologi ini, ditemukan pada awal 1800-an, namun baru dipakai untuk pemantik gas pada tahun 1917, oleh ilmuwan Perancis, Ronson. Piezoelectric dapat mengubah energi menjadi percikan listrik.


Di Indonesia sendiri, sudah sejak lama mengenal pemantik gas. Apalagi setelah PT. Lintas Cindo Pratama mendirikan pabrik pemantik gas sendiri di Surabaya. Sebelumnya, perusahaan ini bergerak bidang trading khusus korek api gas. Produknya terdiri dari korek api kompor, pemantik gas, korek api bara dan korek api senter.


PT. Lintas Cindo Pratama memiliki beberapa merek yang telah di hak patenkan antara lain Fighter, Sonic, Terra, dan Razor. Produk-produk tersebut telah memperoleh SNI dan telah memenuhi standartisasi ISO.


Sekarang dan seterusnya, produsen korek api gas ini berkonsentrasi penuh untuk memproduksi  korek api gas yang berkualitas terbaik dan berharga murah. Untuk menunjang itu semua, PT. Lintas Cindo Pratama menerapkan standarisasi khusus dalam memproduksi korek api gas yang bermutu baik. Yakni :
1.      Tinggi api harus lebih dari 100mm untuk korek api yang memiliki pengaturan gas.
2.      Volume lebih 85% dari kapasitas volume tangki bahan bakar.
3.      Tangki & segel penutup yang dipasang harus aman untuk menahan kebocoran gas atau minimal tidak melebihi 15mg/menit.
4.      Korek harus mampu menahan posisi jatuh +- 1,5m tanpa mengakibatkan tangki pecah.
5.      Mampu menahan suhu 65°c selama 4 jam
 

Sonic dan Fighter adalah dua produk yang menjadi unggulan PT. Lintas Cindo Pratama. Disamping fungsinya yang cukup aman untuk digunakan, Sonic dan Fighter mempunyai tampilan yang Fashionable. Design nya elegan, dengan warna-warna yang indah. Hingga membuat sedap dipandang dan digenggam.


Jadi tak salah kalau produk pemantik gas ini kerap dipergunakan untuk ajang promosi banyak perusahaan. Sebuah pemantik gas memang cukup efektif sebagai sarana promosi perusahaan. Apalagi kalau target promosinya untuk kalangan lelaki.

Add caption

Untuk lebih jelasnya silakan kunjungi …. http://korek-fighter.com

Monday, 6 May 2013

Cimahi : Sebuah Cerita Tentang Harapan




http://www.cimahikota.go.id
Untuk sahabat saya, Cimahi adalah sebuah Hope Land (Tanah Harapan). Sesuai makna luhur yang disandangnya, Kata Cimahi berasal dari basa Sunda ( Cai + mahi ), berarti "air yang cukup". Sahabat saya pun merasakan hal yang sama. Sejak mengakhiri pengembaraan panjang dan berlabuh di Cimahi.
Mungkin hal yang sama pula, ketika tahun 1811, Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels membuat Jalan Anyer - Panarukan, dan membuat pos penjagaan di alun-alun Cimahi (sekarang). Dia telah melakukan pengembaraan dahulu sebelum memutuskan untuk membuat satu pos penjagaan disana. 


Seperti halnya sahabat saya, Daendels jatuh cinta dan merasa nyaman di bumi Cimahi. Walaupun esensi keberadaan mereka mempunyai makna yang berbeda. Dan sahabat saya, mempunyai tujuan yang luhur. Meski karya yang dipersembahkannya untuk Cimahi, tidak spektakuler seperti yang dipersembahkan Daendels.


Saya mengenalnya saat kami sama-sama menuntut ilmu di Sekolah Guru. Pada awalnya saya tak begitu menyukainya. Dia terlalu sederhana dengan apa yang ditunjukkannya. Terkesan kampungan. Apalagi sikapnya yang cenderung carmuk pada kakak-kakak senior yang menjadi panitia opspek. Dialah Yon.
Yon sempat putus asa dengan cita-citanya untuk menjadi guru. Diantara kami semua, Yon paling jago dalam hal keterampilan Pramuka. Tali temali, memecahkan sandi Morse, Semaphore, Penjelajahan, P3K dan lain-lain. Makanya tak heran kalau dia lolos seleksi kabupaten dalam bidang Pramuka. Bahkan ikut dalam Jambore Nasional Pramuka.

Sayang, kecintaannya pada dunia pendidikan anak-anak dan Pramuka tak pernah terapresiasi siapapun. Pengabdiannya selalu tertolak, bahkan oleh kabupaten tempat lahirnya sendiri. Mereka tak butuh pengabdian seorang Yon yang sederhana namun bercita-cita luhur. Mungkin untuk mereka, Yon hanyalah sebutir debu yang tak mungkin menjadi permata.
Yon berkelana dari satu tempat ke tempat lain. Menjalani beragam profesi. Dari kuli bangunan, tukang kayu, sampai menjadi operator alat berat pengeruk pasir. Tapi dibalik itu semua, hatinya selalu menangis, dia teringat senyum manis anak-anak didiknya di sekolah, tempat dia menjadi guru sukarelawan. Yon kehilangan senyum hangat mereka.

Hingga akhirnya Yon berlabuh di Cimahi. Kota Tentara yang membuat hidupnya memasuki babak baru. Cimahi butuh Yon. Butuh seorang pendidik berjiwa sederhana yang bercita-cita luhung. Butuh seorang instruktur Pramuka yang mumpuni dengan beragam keterampilan pandu. Butuh semangat Yon yang menggebu untuk mencerdaskan bangsa. Cimahi butuh jiwa raga Yon seutuhnya.


Saat ini, Yon telah menemukan dunianya sendiri. Dunia Pramuka yang riang gembira. Dunia celoteh anak-anak yang suka cita menyambutnya. Semua itu dia dapatkan dari sebuah tempat, bernama Cimahi. Sebuah tanah harapan yang mulai hiruk pikuk oleh kehidupan yang berdenyut setiap detik. Yang mulai gegap gempita dengan koloni yang dimilikinya. Tak hanya gegap gempita oleh tentara-tentara yang bermarkas disana.

Saya kembali bertemu dengan Yon beberapa bulan yang lalu. Busananya tetap sederhana seperti dulu. Garis-garis tua mulai terlihat diwajah dan rambutnya. Sambil berkelakar, saya bertanya pada dia.
“ Ternyata kamu tak pernah berubah Yon…. “
Diapun menjawab sambil tersenyum bahagia.

“ Aku menemukan dunia yang begitu indah di Cimahi.
Aku rela meninggalkan tanah kelahiranku.
Aku rela mendurhakainya.
Aku tak gentar kalau dia mengutukku menjadi batu.
Cimahi lebih mencintaiku seutuhnya.
Melebihi ibu pertiwiku sendiri “