Sunday, 13 October 2013

be… HE-MAT… with STARK LED




Orang terkuat BUKAN mereka yang selalu menang…
MELAINKAN mereka yang tetap tegar ketika mereka jatuh...                                   
(Kahlil Gibran)



Senja baru saja menghilang saat kakek menyalakan lampu di teras rumah. Baru dinyalakan sebentar, sang lampu tiba-tiba byar…prĂȘt… seketika mati. Dia geleng-geleng kepala. Tak habis pikir mengapa terjadi. Padahal bola lampu itu baru saja dibelinya siang tadi. Mungkin lampu itu sudah tua dari sononya seperti dirinya.
Sang kakek tua pun semakin bingung ketika melihat cadangan pulsa listrik di box meteran listriknya yang cepat sekali habis. Padahal tak banyak peralatan elektronik yang dipakai. Kecuali lampu-lampu yang menerangi setiap sudut rumah. Dia memang sengaja membuat rumahnya terang benderang setiap malam. Biar pencuri tak tertarik karena takut.


Yang dialami sang kakek tua, sebetulnya tak perlu terjadi. Andai lebih dulu berkenalan dengan STARK LED.., lampu LED yang tidak hanya hemat energi, tetapi juga hemat biaya sejak pembelian pertama.
Lampu segala hemat  produksi PT.Sumber Harapan Abadi itu memang sangat layak untuk menjadi pilihan dan solusi tepat pencahayaan di semua rumah dan tempat dimanapun. Sesuai dengan komitmennya PT. Sumber Harapan Abadi selalu menghadirkan produk inovatif dan berkualitas untuk tetap maju bersama masyarakat Indonesia. Terbukti dengan suksesnya menukangi Dataprint. Yang meraih gelar Top Brand 2009-2013. Bayangkan… selama 5 tahun berturut-turut sukses menghadirkan produk berkualitas di masyarakat Indonesia.
STARK LED dihadirkan ke tengah masyarakat Indonesia, dengan mengusung beragam keunggulan dibanding produk sejenis. Yakni :
1.      PRODUK yang INOVATIF


2.      SUPER HEMAT


3.      BERGARANSI


4.      RAMAH LINGKUNGAN


Disamping produknya yang sangat bagus, STARK LED juga memanjakan pelanggannya dengan program-program yang menguntungkan, Yaitu :
1.        Program RE-SELLER

2.       Program SURPRISE SURVEY

Mengutip kalimat Inspirasi Kahlil Gibran di atas :
Lampu terkuat BUKAN lampu yang selalu mahal..
MELAINKAN STARK LED yang tetap hemat sejak awal...

Friday, 11 October 2013

Be Happy… Dan Buatlah KEAJAIBAN





" Dunia ini dipenuhi oleh manusia yang seperti lobster. Mereka seolah terjebak di bawah batu penundaan dan keraguan mengambil keputusan penting, yang membuat mereka lebih suka menunggu keajaiban dan keberuntungan datang daripada mengerahkan segala daya upaya agar bisa terbebas."- Orison Swett Marden.
Entrepreneur sejati tidak boleh terjebak terlalu lama dalam kebiasaan menunda dan keraguan. Mereka harus yakin dengan keputusannya dan berpendirian teguh.  Berhenti menjadi lobster yang terjebak selamanya di bawah batu!
Selamat memulai hari, entrepreneur Indonesia. Salam IPE!

Entrepreneur selalu identik dengan sesuatu yang “BARU’. Bisa sebagai :
1.      Penemu : menemukan konsep / produk baru
2.      Inovator : menggagas dan menerapkan teknologi baru untuk mengatasi satu masalah.
3.      Marketer : melakukan terobosan pasar untuk mencari celah pemasaran suatu produk.
4.      Oportunis : memanfaatkan peluang yang ada dan menyulapnya menjadi sebuah kesempatan memasarkan jasa.
Secara faktual dilapangan, Entrepreneur selalu dihubungkan dengan lahirnya usaha baru. Ada yang melakukannya sendirian, atau berkelompok. Pelakunya beragam, mulai dari seseorang yang belum pernah menjadi karyawan, hingga yang sudah jenuh menjadi manusia upahan.

 
Untuk Karyawan yang memutuskan menjadi Entrepreneur memang tidak mudah. Apalagi disaat karir seseorang di satu perusahaan sedang merangkak matang. Makanya kebanyakan memilih melanjutkan sesuatu yang sudah ada, tak perlu repot memulainya kembali. Beda dengan seseorang yang terlibat krisis, dipecat, atau bahkan terlilit utang. Biasanya memicu dia untuk kembali memulai hidupnya kembali. Pilihannya tentu pada usaha sendiri.
Bermodal kenekadan, biasanya akan dengan mudah memulai usaha baru. Dengan memanfaatkan peluang yang tiba-tiba ada. Atau terdesak karena kebutuhan ekonomi. Udara memang gratis. Tapi tubuh manusia tak bisa kenyang dengan udara.


Entrepreneur berasal dari bahasa Perancis. Mulai populer sebagai kosa kata baru dalam bahasa Inggris sekitar tahun 1852. Muncul di saat para pelaku ekonomi Eropa tengah berjuang menemukan beragam usaha baru. Meliputi sistem produksi, pangsa pasar dan sumber daya. Hal ini dilakukan untuk mengatasi kejenuhan berbagai usaha yang telah ada.
Saya tertarik memulai usaha Cookies Lebaran disaat pangsa pasar sudah jenuh. Artinya sudah lebih dahulu dikuasai brand-brand professional dan amatir dengan beragam produk yang luar biasa. Yang jadi keyakinan saat itu hanyalah MOMENT. Saat hari raya tiba, hampir semua umat muslim mencari dan memerlukan kue lebaran. Tak peduli kalangan berada, yang paling miskin sekalipun bela-belain mengada-adakan. Bagi mereka, moment sekali setahun. Kapan lagi terjadi, siapa tahu tahun depan sudah tak ketemu lagi lebaran.
Berangkat dari sebuah Momentum  itulah, usaha saya dimulai. Awalnya sangat sulit..? Tentu saja! Kalau mudah, semua orang pasti menjadi pengusaha. Apalagi modal dengkul, yakni tanpa modal sama sekali. Kok bisa..? Inilah cara saya mengalahkan dunia. Inilah yang saya namakan dengan seorang Entrepreneur.
Cara yang saya terapkan adalah dengan system tabungan Lebaran. Bila orang lain melakukan tabungan paket sembako. Saya menerapkan produk jadi, yakni cookies lebaran. Praktis dengan begitu modal saya hanya brosur. Untuk modal bahan baku dan tetek bengek lainnya, dibiayai oleh dana tabungan Lebaran yang disetor konsumen.
Tahun pertama cukup sukses. Tapi untuk tahun selanjutnya, cara yang saya lakukan banyak ditiru orang. Terbukti dengan banyaknya usaha serupa. Tentu saya bukan pengecut yang berhenti begitu saja. Inovasi baru terus dilakukan diantaranya :
1.      Diversifikasi produk
2.      Perluasan marketing yang agresif
3.      Penyempurnaan kemasan
4.      Program After Sales service


Usaha apapun ujung-ujungnya adalah KEPERCAYAAN. Konsumen akan tetap setia jika produk yang ditawarkan bagus dan sesuai selera mereka. Untuk itulah point nomor empat mutlak diperlukan.
Untuk itulah seorang Entrepreneur harus memiliki karakter:
               F (Focus) untuk fokus,
             A (Advantage) untuk keuntungan,
C (Creativity) untuk kreativitas,
E (Ego) untuk ego,
T (Team) untuk tim,
S (Social) untuk sosial.
( referensi :Wikipedia )


Menjadi Entrepreneur, berarti memutuskan untuk membuat sebuah kemerdekaan untuk diri sendiri. Dan kemerdekaan identik dengan sebuah kebebasan yang membahagiakan. Ada banyak tolok ukur yang mendefinisikan kebahagiaan. Orang boleh saja berkata, Uang tak dapat membeli kebahagiaan. Tapi mengapa orang yang punya uang terlihat lebih bahagia ?


Mengutip kembali ( Inspirasi By Ciputra )
"Kebahagiaan bergantung pada diri kita sendiri."- Aristoteles
Entrepreneur mestinya memiliki tanggung jawab pribadi atas kebahagiaan dirinya.
Ada kalanya entrepreneur perlu lebih memperhatikan kebahagiaan dirinya sebelum orang lain di sekelilingnya. Bukan berarti ia egois, tetapi karena dengan membahagiakan diri dulu, seorang entrepreneur akan lebih dapat banyak membawa kebahagiaan bagi orang lain. Kebahagiaan diri adalah tanggung jawab Anda sendiri.
Salam entrepreneurship!
Be a HAPPY Entrepreneur!

Tuesday, 8 October 2013

PLN BERSIH : Hindari KLEPTOKRASI




Titik ujung korupsi adalah KLEPTOKRASI, yang arti harafiahnya: pemerintahan oleh para pencuri, dimana pura-pura bertindak jujur pun tidak ada sama sekali. (Wikipedia).


Ada yang menarik saat kakak saya membangun rumah di sebuah kota kecamatan. Jaraknya sekitar 30 KM dari kota Bandung ke arah timur. Begitu bangunan mencapai 50 persen, kakak saya didatangi seseorang. Mengajak ngobrol dan ujung-ujungnya menawarkan jasa pengurusan saluran listrik. “ Biar tak repot dan cepat nyalaKatanya.
Kakak saya menolak. Kantor PLN hanya 3 KM dari rumahnya. Ngapain pake jasa calo. Mending ngurus sendiri. Lagi pula di beberapa tempat bisa dilakukan secara on-line. Biayanyapun lebih hemat. Kalau mesti menunggu giliran, itu wajar. Pasti bukan cuma dirinya yang mau masang saluran listrik.
Singkat kata, kakak saya pun mengunjungi kantor PLN sebelum pergi bekerja. Berhubung kantornya masih tutup, diapun menunggu. Ternyata di kantor PLN pun tak luput dari arena bermain para calo. Buktinya ada beberapa orang yang menghampiri kakak saya untuk membantu mengurus pendaftaran.
Untuk kedua kalinya kakak saya menolak. Namun ada calo yang mengatasnamakan orang dalam. “Sudah biasa…” katanya. Namun kakak saya tetap menolak. Sudah datang ke kantor PLN juga. Mengapa mesti mengupah orang lain.
Ketika mengurus pendaftaran pelanggan. Ternyata cukup mudah. Biayanya pun beda jauh dengan yang ditawarkan para calo.


Pengalaman kakak saya diatas memang menjadi sangat ironi. Entah benar atau tidak yang dikatakan para calo, bahwa mereka dibekingi’ orang dalam. Tapi terlepas dari benar tidaknya, sudah seharusnya hal ini menjadi perhatian PLN. Mungkin ada pihak-pihak luar yang memanfaatkan situasi. Memanfaatkan kedekatan para calo itu dengan petugas PLN. Karena ternyata, mereka ada yang mengaku, kerabat, sahabat, atau tetangga petugas PLN.
Untuk urusan ‘Birokratis’ sebagian rakyat Indonesia memang terkenal malas. Maunya instan. Tak sudi mengantri dan ditanya ini-itu. Budaya feodalism..? Bisa jadi. Mungkin karena stigma negatif birokrasi. Semua setuju kalau menyangkut birokrasi pasti berbelit-belit. Ditambah kabar burung yang beredar. Bisa jadi, sengaja dipolitisasi para calo untuk menjerat mangsa.


Perlu dicari formula tersendiri untuk meng-edukasi masyarakat supaya tidak menggunakan jasa calo. Pendaftaran on-line sudah membantu. Namun sikap re-aktif dari PLN sendiri yang masih kurang. Alangkah sangat membahagiakan jika ada kepastian eksekusi setelah calon pelanggan mendaftar dan menyelesaikan pendaftaran. Hal ini akan memudahkan semua pihak. Tak akan terjadi transaksi kolusi. Dan PLN tak dipusingkan dengan omelan pelanggan.
Untuk di daerah-daerah, sosialisasi agenda PLN terasa kurang informatif. Pengguna internet masih terbatas. Mereka tak tahu dan gaptek masalah teknologi. Alangkah hebatnya kalau saat ada sosialisasi apapun, dapat berbentuk poster yang bisa dijumpai di kantor-kantor RT/RW. Bukan hanya lewat iklan Televisi dan dunia maya. Meski sebagian besar masyarakat punya pesawat Televisi, tapi untuk urusan menyimak informasi birokratis masih rendah. Dikalahkan siaran sinetron dan infotainment.


Untuk Korporasi besar sekelas PLN, tentu sudah tak masalah dengan Sistem. Pasti PLN mempunyai Sistem manajemen perusahaan terbaik. Yang menjadi anggota koloninyapun bukan orang-orang sembarangan. Karena dihuni SDM mumpuni dan berdedikasi tinggi. Yang perlu sedikit disentil hanya masalah mental. Ditengah hedonisme dunia, siapapun mudah tergoda dengan bujukan. Makanya diperlukan mental yang benar-benar imun terhadap virus corrupt. Caranya…? PLN pasti punya system khusus untuk menanggulanginya.
Menjadikan suatu Korporasi yang benar-benar bersih, sangat tidak mudah. Salah satu kendalanya adalah godaan dari luar korporasi. Contohnya seperti pengalaman di awal tadi. Bayangkan jika tragedi kolusi’ seperti itu dialami seratus pelanggan setiap hari di satu kantor PLN. Kalau rata-rata ‘sang oknum mendapat seratus ribu dari satu pelanggan. Berapa banyak yang didapatnya setiap hari. Bahkan menurut sang calo. Hasil ‘tragedi kolusi’ itu dibagikan pada seluruh staf yang bertugas. Kolusi berjamaah….?  Mengerikan….
  Memulai proses pembersihan tak dapat dilakukan hanya dari atas. Bisa jadi kalau semua ditelusuri, transaksi fantastis justru ditemukan dikalangan bawah. Lawong faktanya sudah terang benderang. Hanya, kolusi yang terjadi diantara para kroco dilakukan secara bancakan. Bukan dilakukan orang per orang. Kalau ada kesempatan, pasti mereka juga akan melakukannya. Semua terjadi karena bentukan mental yang salah besar.


Pada waktu masuk menjadi karyawan baru, mungkin idealisme masih bersih. Tapi begitu bergaul dengan koloni lama. Satu per satu virus mulai menjangkiti. Biasanya dimulai dari tips sederhana saat melayani pelanggan sebagai tanda ucapan terima kasih. Lama-lama terbiasa. Lalu ketagihan. Selanjutnya marah-marah kalau pelanggan hanya mengucap terima kasih.
Bisa juga disebabkan karena ketimpangan penghasilan karyawan. Seperti yang dikemukakan J.W Schoorl (Sumber buku "Pemberantasan Korupsi karya Andi Hamzah, 2007) "di Indonesia, di bagian pertama tahun 1960, situasi begitu merosot sehingga untuk sebagian besar golongan dari pegawai, gaji sebulan hanya sekadar cukup untuk makan selama dua minggu. Dapat dipahami bahwa dalam situasi demikian memaksa para pegawai mencari tambahan dan banyak diantaranya mereka mendapatkan dengan meminta uang ekstra untuk pelayanan yang diberikan"





Di beberapa Bank swasta, ada poster yang berisi larangan nasabah memberikan tips atau ucapan terima kasih berbentuk uang. Dan para petugas itupun langsung menolak tegas bila ada nasabah yang memberi tips. Tapi ada pula nasabah nakal. Mereka tetap memberi tips lewat cara lain. Transfer pulsa’. Pura-pura meminta nomor telpon petugas. Tahu-tahu ada sms dari nasabah yang menyatakan sudah mengirim pulsa berikut ucapan basa-basi terima kasih. Bila sudah begini, si petugas tak bisa apa-apa. Mau tak mau di kemudian hari, dia memberikan layanan prioritas atas nama balas budi.


Jadi… Tekanan dari luar Korporasi memang terlalu kuat. Makanya yang paling penting adalah pembenahan mentality anggota koloni. Sudah siapkah.. PLN ?