Saturday, 6 April 2013

TANTANGAN ZAMAN UNTUK SEORANG PENGEMBARA



Diary Kecil Seorang Ibu Gembala


“ Lihatlah bunga bakung di padang yang tidak pernah memintal dan menuai…Tapi Tuhan mendandaninya dengan sangat indah…Terlebih kamu sebagai manusia”



Saya mengenalnya sebagai seorang ibu yang mengabdi pada suami dan anak-anaknya. Di pagi buta, perempuan paruh baya yang masih terlihat cantik ini sudah mengawali aktivitas. Membangunkan sang suami dan dua anaknya yang sudah dewasa. Selanjutnya menyiapkan air panas untuk mandi semua anggota keluarga. Dan menyiapkan sarapan pagi.
Jika bosan dengan masakan rumah, biasanya.. ibu yang murah senyum ini menyambangi beberapa kedai makanan di hari yang masih gulita. Membeli nasi uduk, membeli bubur ayam, atau membeli kue serabi yang masih panas. Ditempat terakhir inilah, saya kerap bertemu dengannya. Maklum, saya termasuk penggemar kue serabi juga. Selepas shalat shubuh biasanya saya nongkrong di kedai kue serabi untuk sarapan.
Meski baru kenal, namun sang ibu tak segan berbagi cerita dengan saya. Dan inilah sepenggal cerita tentang sejarah keberadaannya di kampung kami yang cukup sunyi….


“ Anak bungsu kami meninggal dua tahun lalu. Suami saya begitu syok dan depresi karenanya. Beberapa bulan dia terbaring sakit. Bahkan di suatu titik, dia mengalami Burn Out… Semangat hidupnya drop ke titik nadir. Dia memang begitu menyayangi si bungsu, lebih sayang dari anak-anaknya yang lain.
Kami akhirnya memutuskan pindah ke kampung ini. Semata-mata untuk mencari cara agar ayah anak-anak dapat berpaling dari kesedihannya. Puji Tuhan… ternyata dia lambat laut dapat bersahabat dengan takdir. Dia mulai bisa melupakan kenangan dengan sibungsu dan mulai menata kembali hidupnya. “


“ Keluarga kami memang keluarga yang unik. Saya sebenarnya puteri seorang pendeta. Karena cinta lah, saya memutuskan untuk menikahi suami saya yang seorang muslim. Anak-anak kami semuanya muslim. Hanya saya seorang, yang non muslim di rumah kami. Entah mengapa, saya tetap mempunyai keteguhan yang kuat untuk mempertahankan keyakinan saya.
Saat di Jakarta kemarin. Saya tidak begitu khawatir dengan kehidupan beragama kami. Karena rumah kami berada di suatu komplek yang sangat pluralis. Beragam agama dan keyakinan, hidup rukun dalam satu komplek.
Kehidupan bertetangga kami tak pernah terpengaruh dengan berbagai pemberitaan media tentang gerakan radikalisme agama yang kerap diberitakan media massa. Komplek kami tetap damai dan sejahtera.


Perasaan saya sedikit was-was saat memutuskan pindah ke kampung ini. Kampung sunyi yang masyarakatnya seratus persen mempunyai agama yang sama. Bahkan rumah kami berhadapan langsung dengan mesjid kampung. Setiap saat mesjid ini selalu ramai dengan aktifitas keagamaan. Bahkan anak saya pun terlibat aktif dalam semua kegiatan mesjid. Beruntung, dia dipercaya pengurus mesjid untuk jadi muadzin setiap shalat menjelang. Saya cukup senang karenanya.
Semula saya merahasiakan keyakinan saya pada tetangga sekitar. Saya masih was-was. Takut kalau sesuatu akan terjadi, jika mereka mengetahui yang sebenarnya. Maklum, belakangan ini, pemberitaan media tentang radikalisme agama semakin kencang beritanya. Membuat saya kian hati-hati.


Namun entah darimana awalnya. Beberapa tetangga mulai curiga pada aktifitas mingguan saya. Maklum hidup di kampung yang sederhana. Setiap orang terbiasa saling memperhatikan satu sama lain. Biasanya menyangkut orang yang sakit, kelahiran, kematian, pengajian, kerja bakti dan seabreg kegiatan khas komunitas pedesaan lainnya.
Saya suka beralasan akan berolah raga saat pergi ke gereja di minggu pagi. Keteledorannya adalah busana yang saya kenakan. Maklum ibu-ibu. Untuk menghadap Tuhan, saya pasti berdandan dan mengenakan pakaian terbaik. Termasuk ber-make up dan ber- high heels.
Singkat kata, akhirnya seluruh kampung tahu, bahwa saya seorang non muslim. Saya pun menyerahkan semuanya pada kuasa Tuhan. Ternyata kekhawatiran selama ini sangat tidak beralasan. Tetangga-tetangga tetap berperilaku seperti biasa. Tak ada yang berubah. Bahkan menyayangi keluarga kami lebih dari sebelumnya.
Ketakutan-ketakutan itu hanya sebuah prasangka yang tak semestinya saya punyai. Baik di kota atau di kampung, kita tetap dapat hidup berdampingan dengan damai. Tanpa mengusik keyakinan masing-masing individu.


Ada baiknya media apapun tak perlu memblow-up berlebihan mengenai berita radikalisme agama manapun. Karena fakta di kehidupan sehari-hari, keluarga kami dapat hidup damai dan sentosa dimanapun. Meskipun saya hanya satu-satunya orang yang mempunyai keyakinan berbeda di kampung ini. “


Sang ibu paruh bayapun menutup ceritanya sambil tersenyum hangat. Pesanan kue serabinya sudah selesai. Dia memasukan potongan kue ke dalam piring yang dibawanya.
“ Wah keasyikkan ngobrol dengan si Aa. Pasti anak-anak di rumah sudah menunggu sarapannya. Mereka memang masih manja, meski sudah pada dewasa. Walau begitu, ibu selalu rindu suka dengan kemanjaan mereka. Mereka tetap anak-anak manis yang harus ibu lindungi dimanapun, hehehe… “ 


Saya hanya tersenyum menanggapi celotehan sang ibu. Begitu pula dengan penjual serabi yang terus asyik memasak kue-kuenya. Ternyata di kampung kami yang begitu sunyi ini, terkuak kisah seorang pengembara yang mempunyai sisi lain di kehidupannya.
Ibu paruh baya itu bagai bunga bakung yang tumbuh di pekarangan dusun kami yang sederhana. Dia berbunga cantik saat musim penghujan, dan ber-dorman (seolah-olah mati) saat musim kemarau tiba. Saya jadi ingat perkataan seorang teman yang juga non muslim tentang bunga ini.


“ Lihatlah bunga bakung di padang yang tidak pernah memintal dan menuai…Tapi Tuhan mendandaninya dengan sangat indah…Terlebih kamu sebagai manusia”

Thursday, 4 April 2013

Sekolah Belajar Forex FBS Indonesia





Masih segar dalam ingatan ketika suatu senja yang masih panas, seorang rekan kerja saya mencak-mencak dihadapan Our Boss. Dia membela mati-matian sang istri yang berkantor di perusahaan yang sama. Entah apa yang ada dibenaknya kala itu. Hingga membuat dirinya sanggup menunjuk-nunjuk wajah Our Boss dengan kemarahan yang gila-gilaan.
Bagi saya sendiri, suatu kelaziman jika Boss menyuruh lembur kami karena ada pekerjaan mendesak. Menemui klien yang tiba-tiba komplain misalnya. Seperti juga yang dilakukan istri teman saya. Dia diminta Boss untuk mengurus klien yang komplain setelah jam kerja usai.
Tentu lain soal untuk sang suami, yakni teman saya. Dia tak terima istrinya yang tengah hamil muda disuruh menangani klien disaat siang mulai tergantikan malam. Meskipun, untuk dunia kerja kreatif seperti perusahaan kami. Hal demikian termasuk hal lumrah. Perusahaan bisa hidup dari klien-kliennya.


Singkat kata, teman saya pun dipecat dengan tidak hormat. Boss kami yang terkenal temperamental dan sangat ‘buas’, tak terima ditentang bawahannya.


Dua tahun berlalu. Di suatu senja yang hangat, tiba-tiba teman saya menjemput sang istri (yang masih kerja bersama kami). Penampilannya berbeda. Dia datang dengan mobil baru, pakaian keren dan gadget tercanggih.
Kami sangat heran. Apalagi kudengar, teman kami itu tak pernah keluar rumah untuk mencari pekerjaan baru. Seharian dia hanya berkutat dengan gadget. Teman-teman bahkan berseloroh, “ Mungkinkah dia Nyegik (Babi ngepet) untuk mencari kekayaan ? ”.
Sang teman hanya senyum-senyum mendengar selorohan kami. Beruntung dia berkenan mengajakku ikut bersamanya. Sambil makan malam bertiga, dari mulutnya meluncur beragam jawaban mengenai kekayaan yang didapatnya belakangan ini.


Ternyata, dia mencari uang dengan mengikuti Forex Trading On-line. Aku sendiri masih bingung, mengapa orang bisa kaya mendadak hanya dengan sebuah transaksi valas di dunia maya.
Teman saya malah ngakak. Mungkin tak menyangka bahwa ada orang yang terlampau lugu di dunia serba digital ini, seperti saya. Diapun menerangkan panjang lebar.


Forex adalah singkatan dari Foreign Exchange atau dikenal sebagai valuta asing (valas). Dia merupakan pilihan investasi yang tengah booming di dunia, termasuk Indonesia. Seseorang bisa mengambil keuntungan dari si Forex ini dengan cara mengikuti Forex Trading. Yaitu transaksi perdagangan nilai tukar mata uang asing di pasar uang internasional.
 Banyak pihak yang bermain di pasar Forex. Termasuk Pemerintah-pemerintah di dunia, bank-bank utama dunia, perusahaan bertaraf internasional, hedge fund, spekulan valas maupun individu. 


Banyaknya pemain di pasar Forex ini menyebabkan perputaran uang menjadi sangat cepat. Transaksi yang terjadi lebih dari 1,9 triliun US dollar setiap hari sehingga membuat uang dapat berpindah tangan dari satu tempat ke tempat lain hanya dalam beberapa detik
Banyak kalangan berpendapat bahwa Forex Trading merupakan pasar finansial terbesar di dunia. Bahkan menurut sebuah survey, Volume perdagangan dari Forex market mencapai rata-rata USD $ 5 trilyun setiap hari.
Keuntungan dalam Forex Trading didapat dari selisih nilai saat membeli mata uang dan menjual mata uang. Sebagai ilustrasi, misalkan kita membeli USD dengan rate Rp 9.000 . Dan saat kita menukar kembali uang dollar tersebut, rate tukarnya adalah Rp 9.800. Maka kita mendapatkan keuntungan selisih antara rate beli dan rate jual sebesar Rp 800.


Mekanismenya memang mirip dengan aktivitas di money changer. Hanya semua transaksi dilakukan secara elektronik tanpa mengenal waktu. Aktivitas trading bisa dilakukan selama 24 jam. Jadi, mau berapapun penghasilan yang didapat, tergantung dari individu yang melakukannya.
Memang terkesan mudah. Tapi sebetulnya bermain di Forex Trading memerlukan kerja keras, strategi jitu, kelihaian berpolitik dan kecerdasan menyikapi situasi yang sedang boom. Tak banyak orang yang bisa kaya raya dari Forex Trading.


Untuk bermain di Forex Trading harus paham luar dalam mengenai dunia Forex itu sendiri. Jangan sampai memasukinya dengan modal nekad dan amunisi seadanya. Kita harus sekolah dulu sampai tamat mengenai Forex Trading.
Banyak cara untuk belajar memahami dunia Forex Trading. Salah satunya di Sekolah Belajar Forex FBS Indonesia. Bahkan kalau Open account di FBS Markets,….. Gratis T-shirt lho.
Disamping itu tentunya diperlukan deposit yang memadai untuk mendanai proses transaksi kita. Sebagai jaminan keamanan bertransaksi, kita bisa bergabung dengan FBS Deposit bank lokal BCA dan MANDIRI. Kredibilitas kedua Bank itu tentunya sudah tak diragukan lagi.
Saya pun cukup kenyang malam itu. Dengan makanan yang dihidangkan. Juga dengan penjelasan teman saya mengenai Forex Trading. Hingga kepikiran sampai pulang ke rumah tercinta. Buru-buru buka laptop dan browsing sana-sini.


Saya Ingin Kaya Raya Seperti Teman Saya.

Wednesday, 3 April 2013

MENJADI KONSUMEN CERDAS, TANPA BASA-BASI




http://ditjenspk.kemendag.go.id/

Banyak hal tiba-tiba terasa menjadi sebuah masalah ketika sebuah kampung kecil yang sunyi, seketika berubah menjadi kota yang perlahan menggeliat. Ada banyak kebiasaan yang mesti dipertaruhkan. Entah atas nama Menyesuaikan diri, atau hanya sekedar Gengsi.
Hal yang sama, berlaku pula untuk desa kami yang dulunya sunyi senyap. Sebuah dusun kecil berpemandangan tak begitu indah di antara Bandung – Sumedang. Dalam sepuluh tahun terakhir, bermunculan super market besar, mall, bahkan apartemen mengelilingi desa sunyi kami. 

Semua itu terjadi, setelah sepuluh tahun sebelumnya, beberapa Universitas besar boyongan pindah ke dusun kami, yang dulunya perkebunan karet nan gersang. Padahal kata orang-orang dulu, tempat itu dulunya tempat jin buang anak.
Dan kini, dusun kami tercinta telah berubah menjadi sebuah tempat yang berdegup 24 jam. Saya sendiri bingung mau menyebutnya seperti apa. Kampung JatinangorKota Jatinangor… atau apa. Karena yang jelas, dusun kami telah mengalahkan induk kotanya sendiri yaitu Sumedang, sebagai kota kabupaten. Sumedang jauh tertinggal dalam hal apapun oleh Jatinangor.


Yang paling terkena imbasnya, tentu penduduk setempat. Termasuk saya dan keluarga besar. Dengan tergopoh-gopoh harus mengikuti arus modernisasi dengan seketika. Terkejut..? sudah pasti. Apalagi untuk orang-orang dusun yang tingkat pendidikannya kurang memadai. Padahal disekelilingnya bertebaran Universitas besar. Ironis memang.
Jaman saya dulu, sudah puas bermain seharian dihalaman, di sawah, atau di ladang. Berbeda sekali dengan keponakan-keponakan saya sekarang. Mereka memilih seharian bermain di mall, super market dan warnet yang bertebaran di hampir setiap sudut jalan, sepulang sekolah. Begitu pulang ke rumah, langsung nonton Televisi atau bermain game.


Begitu juga dengan keponakan saya yang sudah menikah. Ibu-ibu muda itu sudah enggan menginjakkan kakinya di pasar tradisional. Mereka memilih berbelanja mingguan di super market.
“ Enak Om… tempatnya bersih. Bisa milih sendiri. Tak dicereweti penjualnya. Tak perlu nawar. Tak perlu berdesakkan dengan orang-orang yang berkeringat. Kalau masalah harga-mah gak terlalu penting. Kan suami yang cari duit. Tugas istri-lah yang menghabiskannya. Hehehe…. “
Saya benci sekali dengan alasan yang mereka kemukakan sambil cekikikan. Mereka hanya memberikan pembenaran sepihak atas budaya hedonis-nya. Hidup tak se-sederhana itu Bu…


Suatu saat, saya iseng nitip belanja bulanan pada seorang keponakan. Kebetulan banyak pekerjaan yang tak bisa ditinggalkan. Saya memberinya daftar belanjaan dan sebuah kartu debet.
Keponakan saya hampir seharian berada di mall. Entah apa yang dia kerjakan disana. Yang jelas pulangnya hampir sore hari. Saya pun menerima titipan belanjaan. Terbungkus rapi dalam beberapa tas kresek.
Alangkah terkejutnya ketika membuka belanjaan. Banyak barang-barang jelek yang ada di dalam tas kresek. Terutama beberapa buah yang terlihat sudah tidak segar lagi. Belum lagi beberapa barang yang mendekati tanggal kadaluarsa. Saya protes dan memanggil sang keponakan.
Sang ibu muda malah nyengir dan merasa tak bersalah saat saya menerangkan beragam belanjaan tak layak yang baru saja dibelinya. Dia hanya garuk-garuk kepala semakin tak mengerti dengan apa yang telah diperbuatnya. Saya kehabisan akal. Sebenarnya apa yang ada dibenak keponakan saya saat memilih barang belanjaan. Saya berniat protes pada kakak saya, yakni ibunya.
Saya tambah syok saat mengadu pada sang ibu. Ternyata di rumahnyapun banyak barang-barang serupa hasil belanjaan anaknya. 

http://ditjenspk.kemendag.go.id/

Keponakan saya ternyata tidak cerdas dalam berbelanja. Dia hanya melihat display yang bagus. Tak bisa memilih barang yang tepat. Tak peduli dengan tanggal produksi dan tanggal kadaluarsa. Saya pun mengurut dada. Separah itukah ibu-ibu muda jaman sekarang?. Harus darimana memulai mengajarinya menjadi seorang konsumen yang cerdas.
Keponakan saya hanya manggut-manggut saja saat dikuliahi bagaimana menjadi seorang konsumen yang cerdas. Dia sedikit tertegun saat mengetahui bahwa konsumen yang cerdas itu adalah : konsumen yang kritis dan berani memperjuangkan haknya apabila barang/jasa yang dibelinya tidak sesuai dengan standar yang dipersyaratkan dan tidak sesuai dengan yang diperjanjikan.


Wajahnya memerah saat kembali saya terangkan bagaimana cara berbelanja yang cerdas, seperti :
1.      Bersikap Super Teliti Sebelum Membeli
2.      Memperhatikan Label, MKG dan Masa Kadaluarsa
3.      Membeli produk yang ada SNI dan sesuai dengan Standar Mutu K3L ( Kesehatan, Keamanan, Keselamatan )
4.      Membeli sesuai Kebutuhan. Jangan gelap mata, membeli semua barang karena Keinginan.
“ Kalau barang telanjur dibeli, tapi mengecewakan bagaimana ? “


Saya tersenyum. Tak menyangka, ternyata keponakan saya separah ini lugunya. Saya pun kembali menerangkan bahwa setiap konsumen bisa mengadukan keluhannya pada :
1.      Produsen yang memproduksi barang
2.      LPK ( Lembaga Perlindungan Konsumen ) atau YLKI
3.      Pemerintah. Dalam hal ini terwakilkan oleh :
a.  Dinas Indag Provinsi/Kabupaten/Kota, Unit /Instansi  Pemerintah terkait lainnya.
b. Pos Pengaduan dan Pelayanan Informasi Direktorat Pemberdayaan Konsumen; Hotline: 021-344183 ;
c.  Sistem pengawasan Perlindungan Konsumen Direktorat Jenderal Standardisasi dan Perlindungan Konsumen, melalui : http://siswaspk.kemendag.go.id


“ Ribet ya….. Om ? “ Keponakan saya masih garuk-garuk kepala.
“ Makanya kalau tak mau ribet, harus berbelanja yang Cerdas. Jangan malu dikatakan cerewet. Di Super market banyak pramuniaga yang bisa dimintai tolong untuk membantu memilih barang. Jangan segan bertanya ini-itu sebelum memutuskan memilih barang yang dibutuhkan. Konsumen mempunyai hak untuk mendapat barang terbaik “
Saya menutup kuliah panjang malam itu dengan emosi yang belum sepenuhnya reda. Ternyata banyak hal yang mesti diterangkan pada keponakan saya. Mungkin di luar sana masih banyak ibu-ibu muda seperti dirinya. Mereka tak sadar sudah menjadi bulan-bulanan produsen nakal. Mereka harus diajari pengetahuan sederhana, Bagaimana Menjadi Bijak Dalam Berbelanja.


Saya jadi rindu melihat perempuan-perempuan sederhana saling bertegur sapa di pasar-pasar tradisional. Mereka bersenda-gurau sambil melakukan transaksi jual beli. Penjual dan pembeli sama-sama senang. Bahkan tak jarang terjadi kedekatan emosional diantara penjual dan pembeli.
Beda dengan di super market. Penjual dan pembeli sama-sama membisu. Tak ada transaksi disertai gelak canda. Mereka sibuk dengan dunianya sendiri.

Monday, 11 February 2013

Better Earth…… Better World….. Bersama Oxfam…..


Minggu kemarin saya mengajak beberapa keponakan berziarah ke makam kakek dan neneknya. Sengaja saya membawa anak-anak belia itu, untuk mengenalkan mereka pada leluhurnya. Komplek pemakaman leluhur mereka berada di sebuah bukit yang sejuk di ujung desa.

“ Wah… disini banyak kupu-kupu Om… aku seneng “ Salah seorang keponakanku berteriak gembira. Dipertengahan musim hujan seperti ini, komplek pemakaman memang dipenuhi lautan bunga gladiol dan beberapa bunga liar lainnya. Hingga mengundang banyak kupu-kupu datang.

“ Mengapa di komplek rumah kita sudah tak ada lagi kupu-kupu seperti disini ya Om? Coba kalau banyak kupu-kupu juga. Pasti lebih menyenangkan “ Keponakan saya bertanya lagi.
“ Di rumah kita panas kak! Kupu-kupu tak suka tempat yang panas! “ Keponakan saya yang lain mencoba memberi jawaban.

“ Mengapa rumah kita panas, tetapi disini tidak? “. Keponakan-keponakan saya saling berpandangan. Mereka tidak menemukan jawaban atas pertanyaan terakhir.
“ Itu karena perubahan iklim. Sehingga di beberapa tempat di bumi mengalami perubahan cuaca yang berbeda dengan tempat yang lain. Meskipun masih dalam satu wilayah “ Saya mencoba menjelaskan.

“ Oooooo……… “ Mereka hanya bisa berucap pendek. Entah mengerti atau tidak dengan apa yang saya katakan.


Perubahan iklim dunia, terjadi karena pemanasan bumi atau biasa disebut Global Warming. Menurut Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), Suhu rata-rata global pada permukaan Bumi telah meningkat ± 0.18 °C selama seratus tahun terakhir. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca akibat aktivitas manusia.
Meski masih menjadi perdebatan, namun meningkatnya suhu global diperkirakan akan menyebabkan perubahan iklim dunia. Yang berakibat pula pada naiknya permukaan air laut, meningkatnya intensitas fenomena cuaca yang ekstrem, serta perubahan jumlah dan pola presipitasi. Lebih lanjut lagi, pemanasan global akan mempengaruhi hasil pertanian, hilangnya gletser, dan punahnya berbagai jenis hewan.

 Gas rumah kaca yang menjadi biang kerok, sebenarnya sangat dibutuhkan oleh segala makhluk hidup yang ada di bumi. Karena tanpanya, bumi akan menjadi sangat dingin. Dengan suhu rata-rata sebesar 15 °C , bumi sebenarnya telah lebih panas 33 °C dari suhunya semula. Jika tidak ada efek gas rumah kaca suhu bumi hanya -18 °C sehingga es akan menutupi seluruh permukaan planet ini.
Namun saat ini, gas rumah kaca yang antara lain berupa uap air, karbon dioksida, sulfur dioksida dan metana. Mulai berlebihan berada di bumi akibat aktivitas manusia. Sehingga Gas-gas ini menyerap dan memantulkan kembali radiasi gelombang yang dipancarkan Bumi dan akibatnya panas malah tersimpan di permukaan Bumi. Keadaan ini mengakibatkan suhu rata-rata tahunan bumi terus meningkat.


Efek gas rumah kaca, bukan satu-satunya penyebab pemanasan global. Masih ada Efek umpan balik karena pengaruh awan, Umpan balik terlepasnya CO2 dan CH4 dari melunaknya tanah beku (permafrost), kurangnya kemampuan lautan untuk menyerap karbon, juga efek umpan balik dari variasi matahari.


Makanya sudah sejak lama, iklim bumi menjadi tidak stabil. Gunung-gunung es mulai mencair. Pada pegunungan di daerah subtropis, bagian yang ditutupi salju akan semakin sedikit serta akan lebih cepat mencair. Suhu pada musim dingin dan malam hari akan cenderung untuk meningkat. Daerah hangat akan menjadi lebih lembab karena lebih banyak air yang menguap dari lautan. Curah hujan di seluruh dunia telah meningkat sebesar 1 persen dalam seratus tahun terakhir ini.


Badai akan menjadi lebih sering. Selain itu, air lebih cepat menguap dari tanah. Akibatnya beberapa daerah akan menjadi lebih kering dari sebelumnya. Angin bertiup lebih kencang dengan pola yang berbeda. Topan badai (hurricane) yang memperoleh kekuatannya dari penguapan air, akan menjadi lebih besar. Berlawanan dengan pemanasan yang terjadi, beberapa periode yang sangat dingin mungkin akan terjadi. Pola cuaca menjadi tidak terprediksi dan lebih ekstrem.


Pada masa pemanasan global ini, hewan-hewan di dunia cenderung untuk bermigrasi ke arah kutub atau ke atas pegunungan. Tumbuhan akan mengubah arah pertumbuhannya, mencari daerah baru karena habitat lamanya menjadi terlalu hangat. Akan tetapi, pembangunan manusia akan menghalangi perpindahan ini. Spesies-spesies yang bermigrasi ke utara atau selatan yang terhalangi oleh kota-kota atau lahan-lahan pertanian mungkin akan mati. Beberapa tipe spesies yang tidak mampu secara cepat berpindah menuju kutub mungkin juga akan musnah.
Perubahan cuaca dapat mengakibatkan munculnya penyakit-penyakit yang berhubungan dengan panas dan kematian. Cuaca panas dapat menyebabkan gagal panen, sehingga muncul kelaparan. Perubahan cuaca yang ekstrem dan peningkatan permukaan air laut akibat mencairnya es di kutub utara dapat menyebabkan penyakit-penyakit yang berhubungan dengan bencana alam (banjir, badai dan kebakaran) dan kematian akibat trauma.


Timbulnya bencana alam biasanya disertai dengan perpindahan penduduk ke tempat-tempat pengungsian dimana sering muncul penyakit, seperti: diare, malnutrisi, defisiensi mikronutrien, trauma psikologis, penyakit kulit, dan lain-lain.
Untuk memperlambat semakin bertambahnya gas rumah kaca. Ada dua jalan yang mesti ditempuh yakni :
1.      Mencegah karbon dioksida dilepas ke atmosfer dengan menyimpan gas tersebut atau komponen karbon-nya di tempat lain. Cara ini disebut carbon sequestration (menghilangkan karbon)
2.      Mengurangi produksi Gas Rumah Kaca.


Untuk orang awam seperti kita, cara termudah untuk menghilangkan karbon dioksida di udara adalah dengan memelihara pepohonan dan menanam pohon lebih banyak lagi. Pohon dapat menyerap banyak karbon dioksida dan memecahnya melalui fotosintesis, kemudian menyimpan karbon dalam kayunya. 

Hal lain yang bisa dilakukan adalah kembali ke alam. Hindari sebanyak mungkin menggunakan energi yang dihasilkan oleh bahan bakar yang berasal dari fosil ( minyak bumi, batu bara, dll ). Intinya manusia harus kembali menyayangi Bumi sepenuh hati.


Banyak cara dilakukan manusia untuk kembali menyayangi Bumi. Tidak hanya untuk dirinya saja, namun juga mengajak orang lain untuk berbuat yang sama. Seperti yang dilakukan, sekumpulan orang biasa di Oxford, Inggris tahun 1942. Mereka prihatin masalah kelaparan dan penderitaan yang dialami oleh warga sipil pada masa perang dunia kedua. Berangkat dari keprihatinan tersebut, mereka membentuk sebuah komite untuk membantu para pengungsi di Yunani.
Kelompok ini menamakan diri mereka, Oxfam Committee for Famine Relief (Komite Oxford untuk Bantuan Kelaparan) yang akhirnya disederhanakan menjadi Oxfam.


Saat ini Oxfam sudah menjelma menjadi sebuah Konfederasi Internasional dari tujuh belas organisasi yang bekerja bersama di 92 negara sebagai bagian dari sebuah gerakan global untuk perubahan, membangun masa depan yang bebas dari ketidakadilan akibat kemiskinan.


Di Indonesia Oxfam mulai berkiprah tahun 1957 untuk komunitas yatim piatu. Sekarang Oxfam bekerja sama dengan masyarakat untuk memerangi kemiskinan meliputi wilayah Indonesia bagian barat hingga timur. Oxfam ingin memastikan bahwa masyarakat Indonesia yang paling miskin dan rentan sekalipun, harus mendapatkan kesempatan dan  peluang.


Oxfam Indonesia ingin membangun ketahanan kaum miskin di Indonesia agar mampu mengatasi beragam goncangan, dan bencana. Termasuk efek dari perubahan iklim dunia.

Kembali ke keponakan-keponakan saya yang tengah asik bermain di tengah lautan bunga liar dan kupu-kupu. Saya mengurut dada. Merasa begitu prihatin dengan masa depan bumi ditangan mereka kelak. Apalagi begitu selesai membaca doa diatas pusara kakek dan nenek mereka, keponakan yang paling kecil berteriak.


“ Om bagaimana caranya mengajak semua kupu-kupu cantik ini ke rumah kita. Sayang kalau mereka hanya bermain di bukit sunyi ini…….. “


Semoga Oxfam bisa membantu mereka untuk menjadikan dunia menjadi lebih baik. Tidak hanya untuk manusia. Juga untuk penghuni Bumi yang lain. Seperti halnya kupu-kupu cantik yang diangankan keponakan saya.